Kamu paham tentang jodoh?

“Kamu paham tentang jodoh?” kucoba menanyakan itu pada siapa saja yang membaca pertanyaan tersebut. Kalau tak mau menjawab, tidak apa-apa. Bukankah ada beberapa hal di permukaan bumi ini yang tidak perlu memiliki alasan. Misalnya, yup betul, Saya tahu apa yang muncul di benakmu, cinta, kan?


Pernah baca tulisan di Saya twitter yang berbunyi , “Perjumpaan itu TAKDIR, Jatuh Cinta itu NASIB, Nikah itu PILIHAN, dan Jodoh itu HOAX.” Ya benar klau jodoh itu XOAX (merurut pemahan dia bahwa kata jodoh itu di al qur’an tidak ada. Coba aja cek sampai kiamat juga gak bakalan nemu. Hehehe)

Jodoh berasal dari khazanah Buddha. Bukan hanya bermakna suami-istri. Tapi jodoh ada sebab adanya karma dari masa lalu. Bukan hanya pendamping hidup, tapi juga hal lain, misalnya pekerjaan. Jadi jodoh itu sebab-akibat dari karma masa lalu. Bagi yang nggak percaya karma ya berarti jodoh itu Hoax.

Kalau dalam kitab al wafi fi syarhil arbain nawawi, disebutkan ada empat perkara yang ditentukan sewaktu ruh ditiup pada janin: Rejeki, Batas Umur, Penghidupan, dan Kecelakaan atau Kebahagiaan Hidup.

“Dan kami ciptakan kalian berpasang-pasangan.” QS. An Naba ayat 8. Nah di situ jelas disebutkan: berpasang-pasangan. Bukan dipasang-pasangkan, kan?

Saya sendiri masih belum memahami, mengapa ada perceraian, mengapa ada ketidak bahagiaan dalam pernikahan, mengapa ada pula yang tidak menikah sampai tua. Apakah pernikahan bukan akhir dari penyatuan cinta dua orang manusia? Lalu di mana lagi seorang manusia bisa hidup berdampingan dengan seseorang lainnya?

Sampai di sini ada yang paham tentang jodoh, pasangan, atau pendamping hidup?

Maka dari itu, Saya tak yakin tak ada campur tangan manusia untuk memilih dan bertanggungjawab sendiri pada seseorang yang dinikahinya. Pastinya Tuhan menunjukkan jalan lewat takdirnya mempertemukan orang per orang. Dan manusia memilih siapa yang menjadi pendampingnya dalam pernikahan sesuai dengan batasan-batasan yang ditentukan Tuhan. Terakhir, Tuhan yang merestui lewat orangtua atau wali.

Masih terngiang-ngiang di sekitar teling Saya sebuah pertanyaan lagi yang Saya belum dapatkan jawabannya: Jika cinta menentukan pernikahan, mengapa ia seringkali tak ada di saat diperlukan.